FIQH SHALAT ‘ID

Oleh : Abdullah El Matroed ( Founder & Penulis Buku Bahasa Arab Metode Rumuz )
A. Masyru’iyah Shalat ‘id
       Shalat ‘id disyariatkan berdasarkan al qur’ dan sunnah . shalat ‘id yang pertama kali dilakukan oleh Nabi adalah shalat idul fitri pada tahun kedua Hijriyah. Adapun dalil pensyariatannya adalah sebagai berikut:
1. QS. Al kautsar: 2
2. Assunnah
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الْعِيْدَ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ( متفق عليه )
” Bahwasanya Nabi shalat id tanpa adzan dan iqomah ” ( Muttafaq alaih)
B. Hukumnya
1. Menurut Hanabilah hukumnya adalah fardhu kifayah . Dalilnya Qs. Al kautsar : 2
( kitab al mugni ,Ibnu Qudamah jilid 2 hal 367)
2. Menurut Hanafiyah hukumnya wajib bagi kaum laki-laki sebagaimana wajibnya shalat jum’at. Dalilnya bahwa Nabi memerintahkan untuk melaksanakannya
( Fathul Qodir imam asy syaukani jilid 1 hal 422)
3. Menurut Malikiyyah & Syafi’iyyah hukumnya Sunnah Muakkadah ( sunnah yang di tekankan)
Dalilnya :
” Qoul Nabi kepada seorang arab yang bertanya kepadanya tentang shalat : ” 5 shalat yang telah Allah wajibkan atas hambaNya ” . lalu orang itu bertanya: ” apakah ada kewajiban shalat yang lainnya? Nabi menjawab: ” Tidak ..kecuali kamu akan menambahnya dg yang sunnah “
( HR. Bukhari & Muslim)
( Al Muhadzdzab Imam Asysyiirozi jilid 1 hal 118)
Adapun pendapat yang paling rojih adalah pendapat yang ketiga yaitu hukum shalat ‘id adalah sunnah muakkadah
C. Hukum Wanita menghadiri shalat ‘id
1. Menurut Hanafiyah & Malikiyah tidak diizinkan perempuan yang belum menikah untuk menghadiri shalat ‘id karena ditakutkan menimbulkan fitnah. Dalilnya :
(Qs. al ahzab: 33)
2. Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah ” Tidak masalah perempuan menghadiri shalat ‘id dengan syarat tidak menggunakan wangi-wangian , tidak berdandan ala jahiliyah , bagi mereka yg tidak berhalangan ( Haid atau nifas) maka disunnahkan untuk mengikuti shalat dan bagi mereka yang berhalangan maka dianjurkan untuk mendengarkan khutbah shalat id. “
Dalilnya:
لا تمنعوا إماء الله مساجدالله( رواه البخاري ومسلم )
” Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah “( HR.Bukhari & Muslim)
Adapun pendapat yang paling rojih adalah pendapat yang kedua
D. Waktu Pelaksanaannya
1. Para Fuqoha’ dan Jumhur ulama bersepakat bahwa waktu pelaksanaan shalat ‘id adalah setelah terbit matahari setinggi 1 tombak atau 2 tombak atau sekitar 30 menit setelah matahari terbit sampai sebelum masuk waktu zhuhur
2. Disunnahkan untuk mengerjakan shalat idul adha diawal waktu dan menunda sedikit waktu pelaksanaan shalat idul fitri supaya umat islam bisa mengeluarkan zakat fitrah didalamnya.
E.Hukum mengqodha’/itmam shalat ‘id
1. Menurut Hanafiyah & Malikiyah tidak diwajibkan untuk mengqodha’ ( mengganti) shalat ‘id bagi orang yang ketinggalan shalat id bersama imam ( berjama’ah) , karena terkait waktunya yang telah lewat dan ibadah sunnah tidak diperintahkan untuk mengqodha’nya ,tidak boleh dilaksanakan sendirian dan harus dilaksanakan secara berjama’ah .
2. Menurut Syafi’iyyah & Hanabilah : ” Siapa yang ketinggalan shalat id bersama imam maka disunnahkan baginya untuk mengqodha’nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik. Adapun waktu mengqodha’nya adalah pada hari itu juga diluar waktu-waktu yang dilarang untuk shalat . Shalat ‘id boleh dilakukan sendirian ataupun berjama’ah.
F. Tempat pelaksanaannya
1. Menurut Jumhur : ” Jika diluar kota Makkah maka tempat pelaksanaannya di lapangan dan bukan didalam masjid atau dikerjakan didalam rumah . Kecuali dalam keadaan dharurat  atau karena udzur syar’i  Contoh dikarenakan hujan deras atau terjadinya wabah yang menular seperti penyebaran virus corona dll.
Dalilnya:
عن أبي هريرة قال: أصابنامطرفي يوم عيد فصلى بناالنبي في المسجد( رواه أبو داود والحاكم )
” Dari Abu Hurairah ia berkata: ” suatu ketika kami kehujanan saat hari id lalu Nabi dan kami melaksanakan shalat id didalam masjid “.( HR. Abu Daud & Hakim)
Diriwayatkan juga bahwa Umar & Utsman pernah shalat ‘id didalam masjid dikarenakan hujan “.
Adapun jika berada dikota Makkah maka disunnahkan untuk shalat dimasjidil harom karena kemuliaannya dan kemuliaan ka’bah dan merupakan syi’ar islam yang paling agung.
2. Menurut Syafi’iyyah: ” Shalat ‘id didalam masjid lebih utama karena masjid lebih mulia dan lebih bersih dari yang lainnya, kecuali jika masjidnya sempit maka disunnahkan untuk shalat di lapangan.
Dalilnya:
عن أبي سعيدالخدري: أن النبي كان يخرج إلى المصلى ولأن الناس يكثرون في صلاة العيد وإذا كان المسجد ضيقاتأذى الناس( رواه البخاري ومسلم )
” Dari Abi Sa’id Al khudry bahwa Nabi pernah keluar ke lapangan untuk melaksanakan shalat ‘id karena pada saat itu manusia banyak, dan pada waktu itu masjidnya sempit sehingga ditakutkan manusia merasa terganggu ” ( HR. Bukhari & Muslim)
Adapun pendapat yang paling rojih adalah pendapat yang pertama.
G.Tata Cara Shalat ‘Id
1. Jumlah Roka’atnya
Shalat ‘Id ada 2 roka’at. Sebagaimana qoul ibnu umar:
صلاة الأضحى ركعتان وصلاة الفطر ركعتان وصلاة الجمعة ركعتان تمام غير قصرعلى لسان نبيكم وقد خاب من افترى
” Shalat idul adha 2 rokaat, shalat idul fitri 2 rokaat, dan shalat jum’at 2 rokaat sempurna tanpa dikurangi sedikitpun sebagaimana yang disampaikan Nabi kalian dan sungguh celaka orang yang mendustakannya “.
2. Jumlah Takbir dalam shalat ‘id
a. Menurut Hanafiyah jumlah takbir pada rokaat pertama 3 kali takbir zawaaid ( tambahan ) diluar takbirotul ihrom. Total: 4 takbir .takbir kedua 4 kali termasuk didalamnya takbir bangkit dari ruku’.
b. Menurut Maalikiyah jumlahnya 7 takbir termasuk didalamnya takbirotul ihrom dan 6 takbir termasuk takbir bangkit dari sujud .
c. Menurut Syafi’iyyah jumlah takbir pada rokaat pertama 8 takbir termasuk takbirotul ihrom dan 6 takbir pada rokaat kedua termasuk didalamnya takbir bangkit dari sujud
d. Menurut Hanabilah jumlah takbir pertama 7 takbir termasuk didalamnya takbirotul ihrom dan 6 takbir termasuk didalamnya takbir bangkit dari sujud
3. Bacaan pada saat Takbirotul ihrom dan pada setiap takbir zawaaid ( tambahan)
Para imam madzhab sepakat bahwa bacaan setelah takbirotul ihrom yaitu membaca do’a iftitah .
a. Adapun pada takbir zawaaid imam malik mengatakan bahwa tidak ada bacaan khusus yang harus dibaca didalamnya dan dianjurkan untuk diam
b. Menurut imam syafi’i ,imam ahmad & imam abu hanifah dianjurkan untuk membaca tasbih didalamnya . tapi sifatnya anjuran adapun nanti jika di tinggalkan tidak masalah
سبحان الله والحمدلله ولا إله الا الله والله أكبر
4. Surat yang disunnahkan dibaca didalamnya
1. Menurut Jumhur: ” Disunnahkan pada rokaat pertama membaca surat al-a’la dan surat Al ghasyiyah pada rokaat yang kedua “.
2. Menurut Malikiyyah: ” Pada rakaat pertama membaca surat al-a’la dan membaca surat Asy-syams pada rokaat kedua. “
3. Menurut Syafi’iyyah disunnahkan pada rokaat pertama membaca surat Qof dan surat al qomar pada rokaat kedua.
5. Tidak ada adzan & iqomah pada shalat id
Dalam shalat ‘id tidak ada adzan dan iqomah
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الْعِيْدَ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ( متفق عليه )
” Bahwasanya Nabi shalat id tanpa adzan dan iqomah ” ( Muttafaq alaih)
dalam  riwayat lain juga disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ia berkata:
” Saya telah menghadiri shalat id bersama Nabi, Abu Bakar, Umar dan Utsman ,mereka melaksanakan shalat seblum khutbah tanpa adzan dan iqomat “( HR. Abu Daud)
6. Sifat pelaksanaannya
a. Imam takbirotul ihrom diikuti oleh makmum setelah itu membaca do’a iftitah .
b. Setelah takbirotul ihrom imam takbir zawa-id sebanyak 7 kali ( menurut madzhab syafi’i) sambil membaca tasbih, tahmid dan tahlil disetiap jeda takbir zawaid atau diam sejenak tanpa membaca bacaan apapun.
c.Imam membaca surat al fatihah dan surat al-a’la pada rokaat pertama kemudian ruku’, i’tidal dan sujud seperti shalat biasanya.
d. Imam bangkit dari sujud sembari takbir qiyam , kemudian takbir zawaid sebanyak 5 kali lalu membaca al fatihah dan surat Al ghasyiyah pada rokaat kedua ..sampai salam.
H. Khutbah ‘id
1. Hukum Khutbah “id
Hukum khutbah shalat ‘id adalah sunnah sebagaimana hadits nabi :
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: إن النبي وأبابكر وعمر وعثمان كانوا يصلون العيدين قبل الخطبة(متفق عليه)
“Dari Ibnu Umar ia berkata bahwa Nabi, Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka shalat ‘id sebelum khutbah. “( Muttafaq alaih)”
2. Sifat khutbah ‘id
a. Menurut Malikiyyah khutbah ‘id seperti khutbah jum’at didalamnya terdapat 2 khutbah
b. Menurut Jumhur khutbah ‘id didalamnya hanya terdapat 1 khutbah .
Yang paling rojih insyaallah pendapat yang kedua .
3. Materi Khutbah ‘Id
              Dianjurkan ketika idul fitri bagi imam untuk menjelaskan tentang hukum mengeluarkan zakat fitrah dan ketika idul adha dianjurkan untuk menyampaikan hukum yang berkaitan dengan ibadah qurban ,takbir dihari2 tasyriq dan keutamaan ibadah haji.
4. Hukum mendengarkan dan mengikuti khutbah ‘id
           Jumhur sepakat bahwa mendengarkan dan mengikuti khutbah ‘id hukumnya tidak wajib tapi dianjurkan. Berdasarkan hadits Nabi
عن عبدالله بن السائب قال: شهدت مع النبي العيد فلما انقضت الصلاة قال: إنا نخطب فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس ومن أحب أن يذهب فليذهب
(رواه ابن ماجه )
“Dari Abdullah bin Assa-ib ia berkata: ” Saya pernah menghadiri ‘id bersama Nabi, ketika shalat sudah selesai lalu Nabi berdiri sembari berkata: ” Sesungguhnya kami akan mengadakan khutbah maka siapa yang ingin mengikutinya tetaplah ditempat duduknya dan siapa yang ingin meninggalkannya maka pergilah “.( HR. Ibnu Majah)
I.Hukum Seputar Takbiran
1. Hukum Takbiran
a. Menurut para fuqoha disyariatkan bertakbir pada saat hari raya idul fitri dan idul adha
b. Menurut Jumhur ulama disunnahkan untuk bertakbir secara jahriyah dirumah-rumah, masjid-masjid, pasar-pasar dan pada saat perjalanan menuju tempat shalat ‘id sampai dimulainya waktu shalat,tujuannya adalah untuk menampakkan syi’ar islam dan untuk mengingatkan kaum muslimin yang lainnya.
2. Shigah / lafadz takbiran
a. Menurut Hanafiyyah & Hanabilah lafadz takbiran adalah
الله أكبر ، الله أكبر
لاإله الا الله والله أكبر
الله أكبر ، الله أكبر
ولله الحمد
pendapat ini disandarkan pada pendapat sahabat Jabir, Abu Bakar & Umar dan pendapat ibnu mas’ud.
b. Menurut Malikiyyah & Syafi’iyyah . lafadz takbiran adalah
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر
لاإله الا الله والله أكبر
الله أكبر
ولله الحمد
pendapat ini disandarkan kepada pendapat Jabir dan Ibnu Abbas
c. Dianjurkan dikalangan Syafi’iyyah ditambahkan setelah takbir ketiga:
الله أكبر كبيرا، والحمدلله كثيرا ، وسبحان الله بكرة وأصيلا
sebagaimana yang diucapkan Nabi pada saat beliau berada di Shafa.
d. Dianjurkan juga untuk menambahkan dengan lafadz berikut menurut sebagian Hanafiyyah
لااله الا الله ولانعبد الا إياه ، مخلصين له الدين ، ولو كره الكافرون ، لاإله الاالله وحده ،صدق وعده ، ونصر عبده ، وهزم الأحزاب وحده ، لاإله الا الله والله أكبر
J. Amalan-amalan sunnah yang dianjurkan pada saat hari ‘id
1. Menghidupkan malam ‘id dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah berupa ibadah, dzikir, shalat malam, tilawah qur’an dan amalan-amalan sunnah yang lainnya. Berdasarkan hadits Nabi :
من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى محتسبا ، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب( رواه الطبراني)
” Barangsiapa yang menghidupkan malam idul fitri dan malam idul adha maka hatinya tidak akan mati dihari kematian hati manusia ” ( HR. Thabrani)
2. Memperbanyak do’a karena termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa adalah pada malam ‘id
3. Mandi, memakai minyak wangi, siwak dan memakai baju yang paling bagus ( tidak mesti baju baru) bagi laki-laki, sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat Allah.
4. Bersegera untuk mendatangi tempat shalat ‘id bagi makmum jika memungkinkan sehabis shalat shubuh langsung berangkat ke mushalla supaya bisa mendapatkan shaf awal, dengan penuh ketenangan sembari bertakbir.
5. Disunnahkan untuk berjalan kaki pada saat berangkat ke tempat shalat dan tidak mengapa menggunakan kendaraan pada saat kembali darinya. Sebagaiman qoul Ali bin abi Thalib:
من السنة أن يخرج الى العيد ماشيا ، ثم تركب إذا رجعت
Diantara sunnah Nabi adalah hendaknya seseorang keluar pada hari ‘id dengan berjalan kaki dan ketika pulangnya dibolehkan untuk mengendarai kendaraan.
6. Disunnahkan makan kurma dalam jumlah yang ganjil sebelum berangkat ke lapangan pada saat idul fitri , dan menunda untuk makan pada hari raya idul adha sampai ia kembali dari tempat shalatnya.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat :
أن رسول الله كان لايخرج يوم الفطر حتى يأكل ،وكان لايأكل يوم النحر حتى يصلي( رواه الترمذي وابن ماجه )
“Bahwasanya Nabi tidak keluar pada hari raya idul fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari idul adha sampai beliau selesai shalat “( HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
7. Menunaikan zakat fitrah sebelum manusia keluar ke tempat shalat, dan tidak masalah menunaikannya beberapa hari sebelum ‘id supaya bisa digunakan oleh para faqir miskin pada saat hari ‘id. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas:
عن ابن عباس قال: فرض رسول الله زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن أداها بعدالصلاة فهي صدقة من الصدقات(رواه أبوداود وابن ماجه والدارقطني)
“Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari senda gurau dan perkataan kotor, memberikan makan untuk orang miskin, barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka termasuk shadaqoh seperti shadaqoh yang lainnya. “( HR. Abu Daud, Ibnu Majah & Addaraquthni)
8. Menampakkan wajah yang berseri-seri dan kebahagiaan ketika bertemu dengan saudara muslim yang lainnya untuk mempererat ukhuwah islamiyah diantara mereka.
K. Hukum & Shigah Tahni-ah
        Tahni-ah artinya ucapan selamat yang diucapkan pada saat hari idul fitri. Hukum mengucapkan Tahni-ah pada idul fitri hukumnya sunnah adapun lafadznya adalah sebagai berikut:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
” Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian “
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat :
حديث محمد بن زياد ، قال : كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وآله وسلم ، فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض : ( تقبل الله منا ومنكم ) ، قال : أحمد بن حنبل : إسناده جيد
“Riwayat Muhammad bin Ziyad ia berkata: Saya pernah bersama Abu Umamah Al Bahily dan selain beliau dari para sahabat Nabi ..kebiasaan mereka ketika hari idul fitri saat mereka saling bertemu mengucapkan
تقبل الله منا ومنكم
Imam Ahmad bin Hanbal berkata hadits ini sanadnya baik.”
وجاء في الفتح ( 2/446) : وروينا في بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : ( تقبل الله منا ومنكم ) .
“Disebutkan dalam Fathul Baari jilid 2 /446 kami meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari jubair bin nafiir ia berkata: adalah para sahabat Nabi apabila mereka bertemu dengan sahabat yang lainnya pada hari ‘id mereka mengucapkan
تقبل الله منا ومنكم
Ibnu Taimiyyah berkata dalam majmu’ fatawa beliau:
أن أمر التهنئة هو إلى العادات اقرب منه إلى العبادات ، والأصل في أمور العادات الإباحة ، حتى يرد دليل بالمنع ، بخلاف العبادات التي يحتاج المتكلم فيها إلى نقل الدليل على ما يقول ، ومعلوم أن العادات تختلف من زمان لآخر ، ومن مكان لآخر ، إلا أن أمراً ثبت عن الصحابة أو بعضهم فعله ، هو أولى من غيره ، والله أعلم .
“Perkara Tahni-ah adalah perkara kebiasaan yang lebih dekat kepada urusan ibadah, pada asalnya hukum dari kebiasaan adalah mubah, sampai ada dalil yang melarangnya, berbeda dengan ibadah dimana seseorang yang berbicara tentangnya dia harus membawakan sebuah dalil yang berkaitan dengan ucapannya. Dan perlu kita ketahui bersama bahwasanya urusan adat ( kebiasaan) selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan berpindahnya tempat, kecuali perkara tersebut sudah ditetapkan dari para sahabat Nabi atau sebagian mereka telah mengerjakannya maka kita harus mengikuti jejak mereka karena itu lebih baik dan lebih utama.”
wallahu a’lam bish shawab.
 
 Maroji’| Referensi
📕الفقه الإسلامي وأدلته، للشيخ الدكتور وهبة الزحيلي ، جز ء ثاني ،دار الفكر
📘منهاج السالكين وتوضيح الفقه في الدين ، للشيخ العلامة عبدالرحمن بن ناصر السعدي ، مكتبة الرشد ، الرياض
📗منهاج المسلم ، للشيخ أبوبكر جابر الجزائري ، مكتبة توفيقية

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *